Konsep Kebahagiaan dalam Perspektif Islam
Abu Firdhaus
Konsep qana’ah menjadi salah satu fondasi utama kebahagiaan dalam Islam. Qana’ah dimaknai sebagai sikap menerima rezeki yang diberikan Allah secara proporsional disertai usaha yang halal dan etos kerja yang baik. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang diberi rezeki secukupnya dan dianugerahi sifat qana’ah (HR. Muslim). Sikap ini mencegah munculnya rasa iri, kecemasan, dan ketidakpuasan yang sering kali menjadi sumber ketidakbahagiaan dalam kehidupan modern. Dengan demikian, qana’ah berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri terhadap orientasi materialistik yang berlebihan.
Selain qana’ah, kebahagiaan juga berkaitan erat dengan sikap syukur dan sabar dalam menghadapi dinamika kehidupan. Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa seluruh urusan seorang mukmin adalah kebaikan baginya; apabila memperoleh kenikmatan ia bersyukur, dan apabila tertimpa musibah ia bersabar (HR. Muslim). Prinsip ini menunjukkan adanya kerangka kognitif dan spiritual yang membantu individu memaknai setiap peristiwa secara positif. Dalam konteks psikologi, sikap ini sejalan dengan konsep resiliensi, yaitu kemampuan individu untuk tetap stabil dan adaptif dalam menghadapi tekanan.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penerimaan terhadap takdir. Islam mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam penyesalan berlebihan terhadap peristiwa masa lalu, karena hal tersebut dapat melemahkan mental dan keimanan (HR. Muslim). Penerimaan takdir yang disertai ikhtiar mendorong terbentuknya ketenangan batin dan optimisme dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, kebahagiaan dalam Islam merupakan hasil integrasi antara keimanan, pengelolaan emosi, dan akhlak sosial, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kesejahteraan individu serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
1. Bahagia itu tentang hati yang cukup
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Makna: Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang merasa cukup, bukan dari materi.
2. Bahagia lahir dari syukur
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya.”
(HR. Muslim)
Makna: Saat senang bersyukur, saat susah bersabar—dua-duanya bernilai kebaikan.
3. Jangan bandingkan hidupmu dengan yang di atas
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat orang yang berada di atasmu.”
(HR. Muslim)
Makna: Cara paling sederhana menjaga rasa bahagia adalah berhenti iri.
4. Tenang menerima takdir
“Apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu.”
(HR. Tirmidzi – shahih)
Makna: Ketenangan hidup lahir dari keyakinan pada takdir Allah.
5. Bahagia dengan kesederhanaan
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana’ah.”
(HR. Muslim)
Makna: Hidup sederhana + hati qana’ah = kebahagiaan stabil.
6. Hati yang bersih adalah sumber bahagia
“Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling memutuskan hubungan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Makna: Dendam dan iri adalah pencuri kebahagiaan.
7. Bahagia itu menenangkan orang lain
“Barangsiapa meringankan kesulitan seorang mukmin, Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)
Makna: Membahagiakan orang lain adalah jalan tercepat menuju bahagia sendiri.
.jpeg)